PLANKTONOLOGI
PERANAN
PLANKTON BAGI EKOSISTEM PERAIRAN
DIAJUKAN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH PLANKTONOLOGI
DISUSUN
OLEH :
AMILIA
JAMILATUN
NIM
: 160254242023
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala
puji hanya layak untuk Allah atas segala berkat, rahmat, taufik, serta
hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas penyusunan makalah Planktonologi yang berjudul “Peranan Plankton Bagi Ekosistem Perairan”
Dalam
penyusunannya, saya mengucapkan terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah Planktonologi
yaitu Ibu Dr. Ani, S.Pi., M.Si. yang telah memberikan dukungan, kasih, dan
kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Meskipun saya
berharap isi dari makalah saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun
selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran
yang membangun agar tugas makalah planktonologi ini dapat lebih baik lagi. Semoga
hasil penyusunan makalah ini bisa bermanfaat. Akhir kata saya mengucapkan
terimakasih,
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
Tanjungpinang, 30 September 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Plankton adalah biota air berupa hewan atau
tumbuhan yang hidupnya mengapung, mengambang, atau melayang dalam air yang
berukuran mikroskopis yang pergerakan tubuhnya terbatas tergantung pada arus.
Plankton terbagi dua yaitu zooplankton (plankton hewan) dan fitoplankton
(plankton tumbuhan). Fitoplankton bersifat autotrofik yaitu dapat menghasilkan
bahan organik makanannya sehingga berfungsi sebagai produsen primer.
Zooplankton bersifat heterotrofik karena tidak dapat memproduksi bahan
makanannya sehingga dia berfungsi sebagai konsumen.
Penelitian
plankton dilakukan dari tahun 1676 oleh Antony van Leeuwenhoek yang menemukan mikroskop sederhana. Melalui penemuannya itu beliau
berhasil membuktikan bahwa dalam air terdapat keankeragaman hayati yang
berbentuk renik. Pada paruh abad ke 19 dilakukan pengkajian yang lebih serius
oleh G.V Thompson yang pertama kali mengoleksi plankton dengan menggunakan
jarring halus, dan melakukan pengamatan berkala di Irlandia tahun 1828.
Kemudian disusul oleh Johannes Muller di Jerman yang mulai mengadakan kajian
taksonomi, sekitar tahun 1845. Istilah plankton sendiri baru diintroduksi oleh
Victor Hensen tahun 1887, yang berakar dari bahasa Yunani (Planktos)
yang bearti menghanyut atau mengembara.
Dalam
fase kehidupannya plankton memiliki dua daur hidup yaitu Holoplankton dan
Meroplankton. Holoplankton adalah plankton yang
menjalani seluruh daur hidupnya sebagai plankton. Fitoplankton dan
sebagian zooplankton termasuk kedalam holoplankton. Meroplankton adalah
plankton yang menjalani kehidupannya sebagai plankton pada stadium larva dan
telur, contohnya larva-larva ikan, cumi, kekerangan, dll.
Berdasarkan
ukurannya plankton terdapat dua golongan yaitu net plankton dan non-net
plankton. Net plankton adalah plankton yang dapat tertangkap oleh jarring. Net
plankton terbagi atas mesoplankton yang berukurun 0,2 – 200mm, makroplankton
berukuran 2 – 20 mm, dan megaloplankton yang berukuran 20mm. Non-net plankton
adalah plankton yang diambil dengan botol air (Nansen atau niskin botol).
Non-net plankton terbagi atas ultra plankton yang berukuran 2µm , nanoplankton
memiliki ukuran 2 – 20 µm, dan mikroplankton yang berukuran 20 – 200 µm.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan
masalah makalah “Peranan Plankton Bagi Ekosistem Perairan” berdasarkan latar
belakang yaitu:
1. Apa Saja Peranan
Positif Plankton Bagi Ekosistem Perairan?
2. Apa Saja Peranan
Negatif Plankton Bagi Ekosistem Perairan?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan
penulisan dari makalah “Peranan Plankton
Bagi Ekosistem Perairan” yaitu
1. Mengetahui Peranan
Positif Plankton Bagi Ekosistem Perairan
2. Mengetahui Peranan
Negatif Plankton Bagi Ekosistem Perairan
BAB II
PEMBAHASAN
A. PERANAN POSITIF PLANKTON
Seiring berjalannya berkembang pesatnya ilmu
pengetahuan, penelitian mengenai plankton pun banyak dilakukan. Melalui
penelitian yang telah dilakukan terungkap manfaat- manfaat di perairan yang
terdapat pada plankton, yaitu :
1. Pakan Alami Bagi Biota Air.
Plankton
mengandung banyak karbohidrat dan protein untuk pertumbuhannya. Ukuran plankton
yang sesuai dengan ukuran mulut ikan kebanyakan. Kandungan protein dan
karbohidrat yang terkandung dalam plankton juga tinggi. Juga perkembangan
plankton yang tergolong cepat.
2.
Peneduh yang
Melindungi Biota Air
Karena
dapat merasa aman dari sifat kanibalisme. Semua biota air memakan fitoplankton
sebagai produsen primer. Jika
fitoplankton berjumlah sedikit atau sama sekali tidak ada, maka konsumen di
perairan akan menjadi kanibalisme. Kehidupan plankton yang mengambang bisa
meneduhkan perairan karena sinar matahari sebagian terserap oleh fitoplankton
yang akan digunakannya untuk berfotosintesis.
3.
Menambah
Kadar Oksigen Terlarut Dalam Air (DO)
Melalui
proses fotosintesis. Fotosintesis menghasilkan oksigen dengan reaksi : 6H2O
+ 6CO2 à C6H1206 + 6
O2 sehingga kadar oksigen terlarut bertambah.
Namun
hal itu hanya terjadi pada siang hari. Pada saat malam hari proses fotosintesis
tidak terjadi karena tidak adanya cahaya matahari sehingga suplai oksigen
berkurang. Dalam kondisi ini bakteri pengurai bekerja secara anaerob. Zat – zat
yang dihasilkan bersifat toksik yang berakibatkan buruk bagi organisme
perairan. Namun pada siang hari pun terdapat kemungkinan proses fotosintesis
tidak berjalan dengan baik karena nilai TDS (ukuran zat terlarut baik bahan
organic maupun anorganik yang terdapat pada sebuah larutan) yang tinggi. Jika
nilai TDS tinggi maka penetrasi cahaya akan berkurang akibatnya proses fotosintesis juga akan
berkurang.
4.
Beberapa
Plankton Dapat Menurunkan Zat Beracun.
Dengan cara mengikat zat – zat beracun juga timbal
logam yang terkandung di perairan tersebut lalu mengendapkannya di bawah.
5.
Menjaga
Kestabilan Suhu Air.
Plankton hidup mengambang dan juga plankton tersebut
menutupi permukaan di perairan sehingga biota laut yang ada di dalamnya
terlindungi karena fitoplankton membutuhkan sinar matahari untuk
berfotosintesis, sehingga sinar matahari tidak langsung masuk ke dalam air,
jadi suhunya dapat distabilkan.
6.
Katalisator
Penyerap Karbon.
Fitoplankton berada dalam berbagai bentuk dan simbion,
sehingga perannya sangat vital dalam kehidupan dan rantai energi di laut.
Misalnya, fitoplankton jenis
zooxanthellae melakukan simbiosis dengan binatang karang dan mampu menyerap CO2
menjadi karbonat yang selanjutnya tersimpan dalam bentuk kerangka kapur.
Sebagian besar phytoplankton akan segera mati dan tergantikan oleh proses
reproduksi. Jika bisa dikendalikan, sejumlah besar phytoplankton yang sudah
menyerap CO2, bisa dikirim ke dasar laut sebagai karbon. Saat ini
banyak penelitian para ahli untuk mengembangkan cara menampung CO2
melalui phytoplankton dan menyimpan di dasar laut.
7.
Membantu Proses Terciptanya Awan (secara
tidak langsung)
Para ilmuwan dari
Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan
yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Ketika matahari
menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut)
memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut
di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling
tercampur. Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang
diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut.
Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.Akibat kondisi malnutrisi ditambah
dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan
terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya. Karena rentan
terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan
menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk
menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat
dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan
laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga
membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling
melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil
tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan
membentuk awan. Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu
menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar
ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari
gangguan sinar ultraviolet.
B. PERANAN
NEGATIF PLANKTON
Selain memiliki dampak positif, plankton pun
memiliki dampak negatif yang merugikan bagi bidang perairan, yaitu :
1.
Banyaknya
bangkai zooplankton
Bangkai
zooplankton yang mengendap didasar tanah dapat menjadi racun. bangkai
zooplankton yang mati bisa disebabkan karena bangkai plankton yang mati akan
terurai, jika bangkai zooplankton teurai secara anaerob akan menghasilkan
beberapa gas seperti H2S, NH3,
. Gas – gas tersebut bersifat racun jika dalam konsentrasi tertentu yang
dapat menyebabkan kematian pada ikan.
2.
Pada Plankton
Heterosigma Akashiwa Plankton Ini
Dapat Membuat Pernafasan Ikan Menjadi Tersendat Karena Plankton Ini Menempel Di
Insang.
Heterosigma akashiwa mengandung hydrogen peroksida yang
mempengaruhi insang ikan dan menutup pada respirasi mereka sehingga menghalangi
oksigen yang masuk kedalam insang ikan.
3.
Cyanobacteria
menghasilkan metabolit yang bersifat racun
Metabolit
yang bersifat racun bagi organisme terresteral (darat) maupun akuatik dengan
cara menghambat proses sintesis protein pada organ tubuh yang diserang. Racun –
racun yang dihasilkan dapat menyerang liver, syaraf, dan kulit.
4.
Fitoplankton
Menyebabkan Blooming.
Blooming
merupakan fenomena yang terjadi akibat ledakan perkembangan yang begitu cepat
dari sejenis fitoplankton. Biasanya dari kelompok dinoflagellata (phyrropyta).
Blooming mengakibatkan penurunan produktivitas perairan dan kematian pada ikan
– ikan yang hidup di air tersebut. Blooming ditandai dengan perubahan warna
pada air yang mulanya jernih berubah menjadi warna-warna pekat, tergantung pada
alga yang mengalami blooming, seperti kuning pekat, merah pekat,dll. Hal itu
disebabkan karena eutrofikasi, yaitu pengayaan
(enrichment) air dengan nutrien atau unsur hara berupa bahan anorganik
(nitrogen dan fosfor) yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan mengakibatkan
terjadinya peningkatan produktivitas primer perairan sehingga kandungan oksigen
terlarut dalam air semakin besar. Lama-lama akan muncul oksigen jenuh berupa
gelembung udara yang berasal dari oksigen tak terlarut. Oksigen tak terlarut
itulah yang mengakibatkan ikan – ikan mati.
5.
Beberapa Cyanophyta Dapat Menghasilkan Geosmine yang Menyebabkan Bau Lumpur Pada Daging Ikan
dan Udang.
Hal
ini disebabkan karena tingginya kandungan nitrogen dan fosfor pada bahan
organic dalam air. Geosmine dihasilkan oleh melimpahnya fitoplankton atau biasa
disebut blooming.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Plankton adalah biota
air berupa hewan atau tumbuhan yang hidupnya mengapung, mengambang, atau
melayang dalam air yang berukuran mikroskopis yang pergerakan tubuhnya terbatas
tergantung pada arus. Plankton terbagi dua yaitu zooplankton (plankton hewan)
dan fitoplankton (plankton tumbuhan). Fitoplankton bersifat autotrofik dan
Zooplanktn bersifat heterotrofik. Plankton itu sendiri memiliki peranan positif
dan juga peranan negativ bagi ekosistem perairan
B. SARAN
Adapun saran dari makalah ini yaitu karena begitu besarnya peranan
plankton bagi kehidupan perairan dan makhluk hidup di dalamnya, maka kita sebagai konsumen
terbesar dari hasil perikanan, sebaiknya menjaga dan melindungi perairan baik laut
maupun daratan dari pencemaran limbah rumah tangga serta limbah industri
besar.
DAFTAR PUSTAKA
Sachlan., M., 1972. Planktonology. Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian, Jakarta.
Nybakken., J.W., 1982. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa H. Muh. Eidman. PT. Gramedia, Jakarta.
Davis., C.C., 1951. The Marine and Freshwater Plankton. Michigan State University Press, USA.
